Rabu, 02 Juli 2014

KERJASAMA PERPUSTAKAAN BERBASIS SLiMS



KERJASAMA PERPUSTAKAAN BERBASIS SLiMS
Muthia Fariza, Ahmad Fauzie
Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta



Abstrak
Penelitian ini difokuskan terhadap kerjasama perpustakaan yang berbasis SLiMS. Metode dan teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara tinjauan pustaka. Pembahasan pada artikel ini berisi tentang gambaran secara umum SLiMS, keunggulan dan kelemahan SLiMS, sejarah SLiMS dan bagaimana kerjasama antar perpustakaan yang menggunakan aplikasi SLiMS. Hasil peneilitian ini agar pembaca dapat mengetahui lebih dalam mengenai SLiMS dan bagaimana kerjasama antar perpustakaan yang menggunakan aplikasi SLiMS.
Kata Kunci: kerjasama perpustakaan, SLiMS
I.     Pendahuluan

Kata perpustakaan sudah tidak asing lagi oleh kebanyakan orang. Yang mereka ketahui mengenai perpustakaan adalah tempat kumpulan buku yang banyak. Adapun pengertian dari perpustakaan itu sendiri secara kelimuannya adalah “suatu unit kerja yang substansinya merupakan sumber informasi yang setiap saat dapat digunakan oleh pengguna jasa layanannya. Selain buku, di dalamnya juga terdapat bahan cetak lainnya seperti majalah, laporan, pamphlet, prosiding, manuskrip atau naskah, lembaran music, dan berbagai  karya media audiovisual seperti film, slide,kaset, piringan hitam, serta bentuk mikro seperti microfilm, mikrofis, dan mikroburam (micro-opaque)”.[1]
Pustakawan adalah sebutan untuk orang yang bekerja di perpustakaan sesuai dengan bidang keilmuannya yaitu ilmu perpustakaan. Seluruh informasi baik tercetak dan tidak tercetak yang terdapat pada perpustakaan telah dikemas, disusun, dan ditata dengan rapi oleh pustakawan agar memudahkan para pencari informasi atau yang biasa disebut dengan pemustaka untuk mencari informasi yang mereka butuhkan.
Salah  satu  paradoks  yang  terjadi  dalam  pengelolaan  perpustakaan  di  Indonesia,  salah satunya  soal  kerjasama  perpustakaan.  Seharusnya  yang  butuh  kerjasama  perpustakaan adalah  di  negara  berkembang  seperti  di  Indonesia.  Namun,  yang  terjadi  adalah  negaranegara  maju  yang  fokus  menerapkan  kerjasama antar  perpustakaan  ini. Alasan  yang  seringkali  disampaikan  oleh  pemilik  perpustakaan.  Biasanya mereka  beralasan  takut  koleksinya  hilang  apabila  dipinjamkan,  khususnya  kalau  bahan pustakanya  dalam  bentuk  tercetak. Hal  ini  terkait  budaya  rasa  kepemilikan  yang  besar dan tidak percaya dengan orang lain.  Dengan demikian, mitos bahwa masyarakat Indonesia suka tolongmenolong dan gotong-royong tidak terjadi di kalangan pemilik perpustakaan bahkan sebagian pustakawan  sendiri.
Sebelum adanya teknologi, katalog yang ada di perpustakaan masih berbentuk kartu, namun saat ini hal pertama yang sering dijumpai apabila orang datang ke perpustakaan untuk mencari suatu koleksi adalah datang ke komputer untuk mencari koleksi yang diinginkan menggunakan Online Public Access Cataloging (OPAC). Maka dari itu perkembangan teknologi menjadi pemicu dan faktor utama sebuah perpustakaan dapat berkembang.
Seluruh data dan informasi mengenai koleksi perpustakaannya yang ada pada OPAC terhimpun dalam suatu aplikasi yang bernama SLiMS. Oleh karena itu penulis ingin menjelaskan lebih dalam mengenai SLiMS tersebut yang digunakan pada setiap perpustakaan yang telah menggunakan teknologi komputer untuk menyimpan data-data koleksinya yang kemudian di publikasikan untuk memudahkan pemustakanya mencari koleksi yang ada di perpustakaan tersebut.

II.      Tinjauan Literatur
a.       Pengertian Kerjasama Perpustakaan
Pengertian kerjasama perpustakaan artinya kerjasama yang melibatkan dua perpustakaan atau lebih. Kerjasama ini diper­lukan karena tidak satu pun perpustakaan dapat berdiri sendiri dalam arti koleksinya mampu memenuhi kebutuhan informasi pemakainya. Perpustakaan sebesar Library of Congress pun masih mengandalkan pada kerjasama antar perpustakaan untuk memenuhi informasi pemakainya. Dengan demikian bagi perpustakaan yang lebih kecil koleksinya, kerjasama antar perpustakaan merupakan syarat mutlak untuk memenuhi kebutuhan informasi pemakainya.
Kerjasama perpustakaan dilakukan berdasarkan konsep bahwa kekuatan dan efektivitas kelompok perpustakaan akan lebih besar dibandingkan dengan kekuatan dan efektivitas perpustakaan masing-masing. Prinsip ini dikenal dengan sinergi artinya gabungan beberapa kekuatan akan lebih besar daripada kekuatan masing-masing.
Suatu kerjasama dan sistem jaringan dapat didefinisikan sebagai: “Sejumlah organisasi yang secara formal saling terhubung atau berpartisipasi satu sama lain untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dan memiliki suatu struktur organisasi.” Kerjasama dan sistem jaringan tersebut dapat bersifat fungsional (misalnya pengatalogan), geografis (misalnya provinsi) dan/atau sektoral (misalnya perpustakaan umum).[2]
Pada dasarnya tidak ada satupun perpustakaan, betapapun besarnya perpustakaan tersebut, yang mampu mengumpulkan semua informasi yang dihasilkan oleh para ilmuwan di seluruh dunia, bahkan untuk disiplin ilmu yang paling spesifik sekalipun. Menyadari hal tersebut maka setiap perpustakaan atau pusat-pusat informasi selalu berusaha untuk menjalin kerjasama dengan perpustakaan atau pusat-pusat informasi lain yang ada. Ada beberapa faktor yang mendorong kerjasama antar perpustakaan yaitu:
·         Adanya peningkatan luar biasa dalam ilmu pengetahuan dan membawa pengaruh semakin banyak buku yang ditulis tentang pengetahuan tersebut.
·         Meluasnya kegiatan pendidikan, muali dari sekolah dasar hingga ke perguruan tinggi mendorong semakin banyaknya dan semakin beraneka ragamnya permintaan pemakai yang dari hari ke hari semakin banyak memerlukan informasi.
·         Kemajuan dalam bidang teknologi dengan berbagai dampaknya terhadap industri dan perdagangan serta perlunya pimpinan  serta karyawan mengembangkan keterampilan dan teknik baru. Keterampilan ini antara lain dapat diperoleh dari mambaca.
·         Berkembangnya  kesempatan dan peluang bagi kerjasama internasional dan lalu lintas internasional; kedua hal tersebut mendorong informasi mutakhir mengenai negara asing.
·         Berkembangnya teknologi informasi, terutama dalam bidang komputer dan telekomunikasi, memungkinkan pelaksanaan kerja sama  berjalan lebih cepat dan lebih mudah, bahkan lebih murah.
·         Tuntutan masyarakat untuk memperoleh layanan informasi yang sama. Selama ini merupakan suatu kenyataan bahwa masyarakat pemakai informasi di kota besar  memperoleh layanan informasi lebih baik dari pemakai yang tinggal di daerah terpencil.
·         Kerjasama memungkinkan penghematan fasilitas, biaya, SDM dan waktu.[3]
b.       Bentuk Kerjasama Perpustakaan
Berikut ini bentuk kerjasama perpustakaan yang lazim yaitu :
·         Kerjasama Pengadaan
Dalam bentuk ini berbagai perpustakaan bekerja sama dalam pengadaan buku. Ini merupakan awal bentuk kerjasama. Dalam bentuk ini, masing‑masing perpustakaan bertanggung jawab atas kebutuhan informasi pemakainya. Maka perpustakaan akan memilih buku ber­dasarkan permintaan anggotanya atau berdasarkan dugaan pengetahuan pustakawan atas keperluaan bacaan anggotanya.
Dorongan kerjasama ini berasal dari bertambah banyaknya buku yang diterbitkan dalam berbagai lapangan ilmu pengetahuan, per­luasan jenis terbitan mulai dari buku dan majalah hingga ke laporan tak diterbitkan, kesemuanya berfungsi sebagai sumber in­formasi, hubungan yang makin kompleks antara berbagai subjek dan keterbatasan dana perpustakaan. Hanya dengan pengadaan gabungan atau pengadaan terkoordinasi maka perpustakaan mampu mengakses semua bahan pustaka yang mungkin perlu dibeli dan menjamin bahwa semua sumber telah dilacak.
·         Kerjasama Pertukaran dan  Redistribusi
Kerjasama pertukaran dilakukan dengan cara penukaran publikasi badan induk perpustakaaan tersebut dengan perpustakaan lain tanpa harus membeli. Cara ini biasa juga dilakukan untuk mendapatkan publikasi yang tidak dijual atau publikasi yang sulit dilacak di toko-toko buku.  Pertukaran ini biasanya dilakukan dengan prinsip satu lawan satu artinya satu publikasi ditukar dengan satu publikasi dengan tidak memandang jumlah halaman, tebal tipis publikasi ataupun harga publikasi tersebut.
Kerjasama redistribusi adalah kerjasama yang dilakukan oleh dua perpustakaan atau lebih dalam hal penempatan kembali buku-buku yang tidak lagi diperlukan di suatu perpustakaan atau berlebih di suatu perpustakaan. Buku-buku tersebut dapat ditawarkan kepada perpustakaan lain yang mungkin lebih membutuhkan buku tersebut.
·         Kerjasama Pengolahan
Dalam bentuk kerjasama ini, perpustakaan bekerjasama untuk mengolah bahan pustaka. Biasanya pada perpustakaan universitas dengan berbagai cabang atau perpustakaan umum dengan cabang-cabangnya, pengolahan bahan pustaka
(pengkatalogan, pengklasifikasian, pemberian label buku, kartu buku dan lain-lain) dikerjakan oleh satu perpustakaan yang menjadi koordinator kerjasama.
·         Kerjasama Penyediaan Fasilitas
Bentuk kerjasama ini mungkin terasa janggal bagi perpustakaan di negara maju karena perpustakaan mereka umumnya selalu terbuka untuk dipakai oleh pamakai umum. Dalam bentuk ini, perpustakaan bersepakat bahwa koleksi mereka terbuka bagi pengguna perpustakaan lainnya. Perpustakaan biasanya menyediakan fasilitas berupa kesempatan menggunakan koleksi, menggunakan jasa perpustakaan seperti penelusuran, informasi kilat, penggunaan mesin fotokopi, namun tidak membuka kesempatan untuk meminjam. Biasanya peminjaman buku untuk peminjam bukan anggota dilakukan dengan menggunakan fasilitas pinjam antar perpustakaan.
c.        Pengantar SLiMS
Software SLiMS (Senayan Library Management System) merupakan salah satu software open source yang cukup terkenal di kalangan dunia perpustakaan yang tengah mengembangkan perpustakaan digital pada saat ini. SLiMS merupakan perangkat lunak sistem manajemen perpustakaan (library management system) sumber terbuka yang dilisensikan di bawah GPL v3. Aplikasi web yang dikembangkan oleh tim dari Pusat Informasi dan Humas Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia ini dibangun dengan menggunakan PHP, basis data MySQL, dan pengontrol versi Git. Pada tahun 2009, Senayan memenangi INAICTA 2009 untuk kategori open source. Selain pernah memenangkan penghargaan dalam ajang ICT Award 2009 sebagai kategori Open Source System terbaik, SLiMS secara bertahap namun pasti telah mengundang kepedulian banyak pustakawan untuk membangun komunitas yang menyebar di banyak wilayah, seperti yang ada di Surabaya, Jawa Tengah, Pati, dan yang akan segera dibentuk adalah Komunitas SLiMS Jawa Timur.[5]
SLiMS  sebagai  sebuah  aplikasi  sebenarnya  sudah  bisa  membantu  memperlancar proses kerjasama antar  perpustakaan. SliMS  sudah  mengembangkan  katalog  induk atau  seringkali  disebut  katalog  bersama, yang memungkinkan  seseorang mengakses  untuk  mengetahui  suatu  bahan  pustaka  ada  di  mana  saja  selama  perpustakaan tersebut  menggunakan  aplikasi  SLiMS. 
Kerjasama  perpustakaan  sudah  seharusnya  menjadi  perhatian  bersama  pengguna  SLiMS setidaknya  untuk  antar  perpustakaan  yang  berdekatan,  misalkan  perpustakaanperpustakaan fakultas  yang  berada  dalam  satu  naungan Universitas. Untuk  kerjasama  perpustakaan  ini  memang  perlu  ada  pertemuan  berkala  agar perkembangan dari kerjasama tersebut terus terlaksana dengan baik.
Sebelum sebuah perpustakaan menggunakan aplikasi yang bernama SLiMS ini, maka dibutuhkan pengetahuan mengenai SLiMS itu sendiri. Yang paling utama diketahu adalah fitur yang dimiliki oleh SLiMS, berikut penulis akan menjabarkan mengenai hal tersebut:
·         Online Public Access Catalog (OPAC) dengan pembuatan thumbnail yang di generate on-thefly.
·         Thumbnail berguna untuk menampilkan cover buku
·         Mode penelusuran tersedia untuk yang sederhana (Simple Search) dan tingkat lanjut (Advance Search).
·         Detail record juga tersedia format XML (Extensible Markup Language) untuk kebutuhan web service.
·         Manajemen data bibliografi yang efisien meminimalisasi redundansi data
·         Manajemen masterfile untuk data referensial seperti GMD (General Material Designation), Tipe koleksi, Penerbit, Pengarang, Lokasi, Supplier.
·         Sirkulasi dengan fitur: Transaksi peminjaman, pengembalian, reservasi koleksi, aturan peminjaman yang fleksibel, Informasi keterlambatan dan denda.
·          Manajemen keanggotaan.
·         Stock Opname/stocktake.
·         Laporan dan Statistik.
·         Pengelolaan terbitan berkala (Kardex)
·         Dukungan pengelolaan dokumen multimedia (.flv, mp3) dan dokumen digital lainnya. Khusus untuk pdf dalam bentuk streaming.
·         Senayan mendukung beragam format bahasa termasuk bahasa yang tidak menggunakan penulisan latin.
·         Menyediakan berbagai bahasa pengantar (Indonesia, Inggris, Spanyol, Arab, Jerman, Thailand)
·         Dukungan Modul Union Catalog Service
·         Counter pengunjung perpustakaan
·         Member area untuk melihat koleksi yang sedang dipinjam oleh anggota
·         Modul sistem dengan fitur: Konfigurasi sistem global, Manajemen modul, Manajemen User (Staf Perpustakaan) dan grup, Pengaturan hari libur, Pembuatan barcode otomatis, dan Utilitas untuk backup.
·         Copy cataloguing dengan z39.50 dan p2p service
·         Pemberitahuan surat keterlambatan peminjaman melalui e-mail dengan menggunakan mail server.
Daftar Perpustakaan Pengguna SLiMS di Indonesia dan Luar Negeri semakin hari terus bertambah. Data ini dapat dilihat pada website resmi dari SLiMS yaitu SLiMS.web.id

III.      Metode Penelitian
Pada artikel ini, penulis akan menjelaskan penelitian berdasarkan metode pustaka. Jadi penulis menjelaskan isi artikel ini dengan berbagai macam jenis pustaka, baik itu dari buku maupun jurnal. Jumlah koleksi pustaka yang menjadi referensi sebanyak dua puluh (20) judul, masing-masing sepuluh (10) judul untuk buku dan jurnal ilmiah. Adapun judul dari koleksi pustaka tersebut akan dijabarkan pada bagian referensi di artikel ini.

IV.       Diskusi
a.       Sejarah SLiMS
Awal mula SLiMS bermula dari perpustakaan Inggris yaitu Library of Congres  memberikan sumbangan software perpustakaan yang bernama Alice. Pada  masa pemerintah Inggris ketika itu pemerintahan memutuskan bergabung bersama Amerika Serikat dalam sekutu dan menginvasi Afganistan, mulai muncul kekhawatiran di semua institusi yang terkait dengan pemerintah Inggris di seluruh dunia. Salah satunya adalah The British Council (selanjutnya disebut BC), yang merupakan organisasi non-profit dan mempunyai banyak kantor diseluruh dunia. Kekhawatiran utama adalah ancaman bom dari orang-orang yang dikategorikan “teroris”.  Untuk menghindari ancaman tersebut salah satu “langkah preventif” yang diambil adalah, semua layanan BC yang diakses secara langsung oleh publik, harus ditutup. Salah satu yang terkena dampaknya adalah Perpustakaan BC Indonesia yang telah selama bertahun-tahun menjadi andalan layanan BC di Indonesia. Ironis memang. Sebuah inisiatif yang sangat bermanfaat bagi perberdayaan masyarakat, harus ditutup akibat tindakan politis yang diambil oleh institusi negara yang alasannya pun sampai sekarang masih debatable.
Pengelola BC Indonesia kemudian berinisiatif untuk menghibahkan pengelolaan aset perpustakaanya ke tangan institusi pemerintah. Dalam hal ini, institusi pemerintah yang dianggap sesuai bidangnya dan strategis tempatnya, adalah Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas). Yang dihibahkan tidak hanya koleksi, tetapi juga rak koleksi, hardware (server dan workstation) serta sistem termasuk untuk aplikasi manajemen administrasi perpustakaan (Alice). Namun seiring dengan berjalannya waktu, manajemen Perpustakaan Depdiknas mulai menghadapi beberapa kendala dalam penggunaan sistem Alice. Pertama, keterbatasan dalam menambahkan fitur-fitur baru. Antara lain: kebutuhan manajemen serial, meng-online-kan katalog di web dan kustomisasi report yang sering berubah-ubah kebutuhannya. Penambahan fitur jika harus meminta modul resmi dari developer Alice, berarti membutuhkan dana tambahan yang tidak kecil. Apalagi tidak ada distributor resminya di Indonesia sehingga harus mengharapkan support dari Inggris. Masalah kedua yang muncul adalah sulitnya mempelajari lebih mendalam cara kerja perangkat lunak Alice. Karena Alice merupakan sistem proprietary yang serba tertutup, segala sesuatunya sangat tergantung vendor.
Perpustakaan Depdiknas  salah satu tupoksinya tidak lain adalah melakukan koordinasi pengelolaan perpustakaan unit kerja dibawah lingkungan Depdiknas. Dalam implementasinya, seringkali muncul kebutuhan untuk bisa mendistribusikan perangkat lunak sistem perpustakaan ke berbagai unit kerja tersebut. Disini masalah ketiga: sulit (atau tidak mungkin) untuk melakukan redistribusi sistem Alice. Alice merupakan perangkat lunak yang secara lisensi tidak memungkinkan diredistribusi oleh pengelola Perpustakaan Depdiknas secara bebas. Semuanya harus ijin dan membutuhkan biaya.
Dikarenakan oleh sistem Alice yang sudah tidak sesuai lagi dengan keberlangsungan Perpustakaan Depdiknas, maka dibuatlah sistem baru yang dinamakan SLiMS oleh Hendro Hendro Wicaksono, dengan Programmer Arie Nugraha, Wardiyono. Selain itu, ada pula programmer Tobias Zeumer, dan Jhon Urrego Felipe Mejia. Untuk dokumentasi dikerjakan oleh Purwoko, Sulfan Zayd, M Rasyid Ridho, Arif Syamsudin. Pada Januari 2012, developer SLiMS bertambah 2 orang, yaitu: Indra Sutriadi Pipii (Gorontalo) dan Eddy Subratha (Yogyakarta). Kemudian Senayan dikembangkan oleh SDC (Senayan Developers Community).[6]
b.       Kerjasama SLiMS pada Perpustakaan
Pada pembahasan kali ini, penuli akan menjelaskan kerjasama SLiMS pada perpustakaan, dapat dikatakan juga SLiMS merupakan aplikasi yang dapat menghasilkan katalog pada suatu perpustakaan dan dari katalog tersebut dapat dijadikan kerjasama antar perpustakaan. Oleh karena itu dalam sub bab ini, kerjasama yang dimaksud adalah dengan menggunakan kalimat atau bahasa “Membangun Katalog Bersama (Union Catalogue)”.
                Perpustakaan ada kalanya membangun katalog bersama yang tujuannya adalah untuk berbagi data katalog, sehingga masyarakat cukup mengakses ke satu katalog online, dapat menemukan informasi mengenai keberadaan koleksi pada perpustakaan lain. Biasanya katalog bersama dibangun oleh perpustakaan yang memiliki kesamaan subyek, atau dapat juga karena kesamaan organisasi, contohnya di perpustakaan perguruan tinggi memiliki berbagai macam perpustakaan di masing-masing fakultas.
                Aplikasi SLiMS telah menyediakan modul untuk membangun katalog bersama. Pada aplikasi SLiMS modul ini lebih populer dengan nama UCS (Union Catalogue Service). Untuk mengaktifkan layanan kerjasama katalog menggunakan aplikasi SLiMS ini, maka ada langkah-langkah yang harus diikuti, namun penulis akan menjelaskan langkah singkatnya, untuk langkah terperincinya dapat dilihat pada modul penggunaan SLiMS yang disusun oleh M. Rasyid Ridho.
                Adapun langkah-langkahnya, yaitu sebagai berikut yang pertama pengguna harus mempunyai PC yang telah terinstal oleh apache, mySQL, dan PHP, temasuk PHPmyadmin. Kedua harus mendownload source code UCS dari github https://github.com/slims/ucs-2.0/zipball/master dan menginstall UCS tersebut ke PC anda, langkah ketiga yaitu mendaftarkan node-node (client-client yang akan bergabung atau berhak mengirimkan datanya ke UCS yang sudah disiapkan di atas), selanjutnya keempat, setelah mendaftarkan node-node tersebut maka melakukan konfigurasi pada setiap node (client) agar dapat berkomunikasi dengan server UCS yang mengajak kerjasama.
Langkah di atas adalah langkah singkat untuk membangun katalog bersama. Dalam aplikasi UCS ini dapat mengirimkan data bibliografi dari node (client) ke server UCS, dengan langkah sebagai berikut: masuk ke modul bibliografi, kemudian pilih dengan cara mengklik pada kotak kecil disebelah judul, klik tombol Upload Selected Bibliographic data to Union Catalog Server yang ada dibagian atas kolom pencarian, dan yang terakhir bila berhasil maka akan ada pesan bahwa data tersebut telah terkirim.
c.        Keunggulan dan Kelemahan SLiMS
Segala sesuatu yang diciptakan pasti memiliki nilai lebih dan kekurangan pada produk yang dihasilkan tersebut. Begitupula dengan SLiMS, meskipun kelihatannya fitur sudah lengkap dan mudah dipahami untuk pengguna perpustakaan (pustakawan), namun ada kelemahan. Berikut penulis akan menjabarkan keunggulan dan kelemahannya:[4]
1.       Keunggulan SLiMS
·         Senayan Dapat Diperoleh dan Digunakan Secara Gratis
Perangkat lunak merupakan salah satu komponen penting dalam implementasi otomasiperpustakaan. Sayangnya tidak semua perpustakaan mampu menyediakan perangkat lunak untuk otomasi perpustakaan. Hal ini disebabkan karena harga perangkat lunak otomasi sulit dijangkau oleh banyak perpustakaan di Tanah Air. Kehadiran Senayan sebagai salah satu perangkat lunak otomasi berbasis FOSS menjadi solusi terkait sulitnya dengan pengadaan perangkat lunak otomasi karena perangkat lunak ini dapat diperoleh secara gratis.
·         Multi Platform
Multi platform artinya bisa berjalan secara natif hamper disemua system operasi (komunikasi akses perangkat keras dan komunikasi sumber daya sistem operasi lebih efesien) yang bisa menjalankan bahasa pemprograman PHP (http://php.net) dan RDBMS MySQL ( http://mysql,com). Perangkat lunak ini dikembangkan diatas platform GNU/ Linux dan berjalan dengan baik  diatas platform UNIX* BSD dan windows.
·         Mampu Memenuhi Kebutuhan Otomasi Perpustakaan
Menurut  Saffady sebuah perangkat lunak otomasi perpustakaan minimal memiliki fasilitas layanan sirkulasi, katalogisasi serta on-line public access catalog atau OPAC (Saffady dalam Anctil dan Bahesti, 2004: 4). Senayan tidak hanya menyediakan fasilitas layanan sirkulasi, katalogisasi dan OPAC. Senayan menyediakan fasilitas lain seperti manajemen keanggotaan, fasilitas untuk pengaturan perangkat lunak, cetak barcode (baik barcode anggota maupun barcode buku), penyiangan serta fasilitas laporan dan unggah koleksi digital.
·         Senayan Dibangun Dengan Menggunakan Bahasa Pemrograman Interpreter
Senayana dibangun dengan menggunakan PHP sebagai bahasa pemrograman. PHP merupakan bahasa pemrograman interpreter yang memungkinkan untuk dimodifikasi. Dengan demikian maka perpustakaan memungkinkan memodifikasi Senayan sesuai dengan kebutuhan perpustakaan.
·         Senayan Dikembangankan Oleh Sumber Daya Manusia Lokal
Senayan dikembangan oleh sumber daya manusia lokal, atau dikembangkan oleh SDM bangsa Indonesia. Kondisi ini memberikan keuntungan bagi perpustakaan dan pengguna Senayan. Keuntungan tersebut adalah Senayan sesuai dengan kebutuhan perpustakaan di Tanah Air dan pengguna Senayan dapat berkomunikasi dengan mudah dengan para pengembang Senayan jika mengalami masalah dalam pemanfaatan Senayan.
·         Instalasi Mudah Dilakukan
Sebagai perangkat lunak yang tergolong dalam jenis perangkat lunak berbasis web instalasi Senayan mudah dilakukan, baik itu untuk system operasi windows maupun system operasi linux.
·         Mampu Berjalan di Sistem Operasi Linux Maupun Windows
Windows ataupun linux merupakan dua sistem operasi yang familiar digunakan oleh perpustakaan di Indonesia. Senayan mampu berjalan stabil di dua sistem operasi tersebut. Dengan demikian maka perpustakaan pengguna sistem operasi windows maupun linux tidak perlu khawatir tidak dapat menggunakan Senayan karena tidak mampu berjalan disalah satu sistem operasi.
·         Memiliki Dokumentasi Yang Lengkap
Dokumentasi (modul dan manual) memiliki peranan penting dalam pengembangan sebuah perangkat lunak, termasuk FOSS. Eksistensi dokumentasi akan memudahkan pengguna atau calon pengguna dalam memperlajari sebuah perangkat lunak. Dengan dokumentasi yang lengkap pengguna atau calon pengguna Senayan dapat dengan mudah mempelajari Senayan.
·         Memiliki Prospek Pengembangan Yang Jelas
Perkembangan Senayan terjadi sangat cepat dalam kurun waktu 2 tahun perangkat lunak it uterus memperbaiki diri. Perbaikan ini terlihat dari banyaknya versi yang telah dirilis ke publik. Kondisi ini mencerminkan bahwa perangkat lunak ini memiliki prospek pengembangan. Apabila perangkat lunak ini terus diperbaharui maka pengguna Senayan yang akan memperoleh manfaatnya dari perbaikan terhadap kelemahan serta fasilitas tambahan yang disediakan dalam versi Senayan terbaru.
·         Memiliki Forum Komunikasi Antara Pengguna Dan Pengembang
Senayan menggunakan icsisis@yahoogroups.com. This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it sebagai forum komunikasi antar sesama pengguna Senayan atau pengembang Senayan. Keberadaan forum pengguna ini memungkinkan pengguna saling bertukar pengalaman terkait dengan pemanfaatan Senayan atau berkomunikasi dengan pengembangan jika mengalami kesulitan dalam pemanfaatan Senayan. Dengan demikian calon pengguna tidak perlu bingung kemana mereka berkonsultasi jika mengalami masalah dalam pemanfaatan Senayan, pengguna dapat berkonsultasi melalui milist ini.
2.       Kelemahan SLiMS
·         Kompatibilitas Web Browser
Untuk mengakses Senayan diperlukan web browser. Sayangnya tidak semua web browser mampu menjalankan aplikasi ini dengan sempurna. perangkat lunak ini merekomendasikan mozilla firefox sebagai web browser. Sehingga jika penggunaan web browser selain mozilla firefox mampu tampilan Senayan tidak akan muncul secara sempurna. Misalnya ada beberapa menu yang akan tertutupi oleh banner jika pengguna menggunakan internet eksplorer sebagai web browser. Namun jika hanya digunakan untuk mengakses OPAC (online public access catalog) semua web browser dapat digunakan.
·         Otoritas  Akses File
Senayan menyediakan fasilitas upload (unggah) file. Dengan fasilitas ini pengelola perpustakaan dapat menyajikan koleksi digital yang dimiliki perpustakaan, seperti e-book, e-journal, skripsi digital, tesis digital dan koleksi digital lainnya. Namun fasilitas upload file ini tidak dilengkapi dengan pembagian otoritas akses file. Akibatnya setiap koleksi digital yang telah di upload ke dalam Senayan berarti dapat diakses oleh semua orang. Kondisi ini tentu sedikit mengkhawatirkan jika koleksi digital yang diupload adalah skripsi, tesis atau laporan penelitian digital, dibatasi aksesnya karena koleksi digital jenis rentan dengan masalah plagiasi.

V.                  Kesimpulan
Penerapan perpustakaan berbasis teknologi informasi dapat meningkatkan kualitas dan kecepatan proses layanan kepada pengguna perpustakaan, sehingga dapat memperlancar proses pencarian informasi yang dibutuhkan. Selain itu sistem ini dapat membantu manajemen perpustakaan serta dapat meningkatkan efektifitas dan efisiensi pengoperasian perpustakaan.
Senayan Library Management System (SLiMS) merupakan aplikasi perpustakaan yang cukup terkenal di Indonesia, bahkan di luar negeri pun banyak yang menggunakan SLiMS. Hal ini karena beberapa keunggulan yang dimiliki metadata ini sebagai mana yang telah dipaparkan. Diharapkan SLiMS ini lebih disosialisasikan kepada masyarakat luas dalam  upaya mengembangkan perpustakaan digital di Indonesia
REFERENSI
Sumber Buku
[1] Suwarno, Wiji. Pengetahuan Dasar Kepustakaan.
Hardjoprakoso, Mastini. 1992. Sistem Jaringan Informasi bagi Kegiatan Nasional maupun
Internasional. Dalam. Kepustakawanan Indonesia: Potensi dan Tantangan, Jakarta: Kesaint Blanc

Sulistyo-Basuki. 1991. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Supriyanto, Wahyu. 2008. Teknologi Informasi Perpustakaan. Yogyakarta: Kanisius
Sumber Jurnal/Artikel
[2] A. Ridwan Siregar: Kerjasama dan Sistem Jaringan Perpustakaan Umum, Sumatera Utara, Pustaha: Jurnal Studi Perpustakaan dan Informasi, Vol.1, No. 2, Desember 2005
[4] Judul Makalah REVIEW APLIKASI SOFTWARE “SLiMS” DI PERPUSTAKAAN oleh Ringgar Maharani, dkk. Universitas Brawijaya
[5] Artikel “Sejarah SLiMS” pada http://slims.web.id/web/?q=node/70 Diakses pada tanggal 26 Juni 2014
[6] Artikel “SLiMS (Senayan Library Information Management System)” pada http://wacanapustaka.blogspot.com/ Diakses pada tanggal 26 Juni 2014
Hakim, Hery Abi Burachman. 2011. Optimalisasi Senayan Sebagai Perangkat Lunak berbasis Open Source. Yogyakarta.

 Purwoko; Hakim, Heri Abi Burachman dan Surachman, Arif. 2006. “Kajian Awal Aplikasi Open source untuk Otomasi Perpustakaan: Studi Kasus X-igloo, OpenBiblio, Weblis, PhpMyLibrary. Dalam Fihris, Volume 1, Nomor 1

Elnumeri, Farli. Artikel “Kompetensi Pengelola Perpustakaan & Kerjasama Perpustakaan 
Berbasis Slims”

Sulistyo-Basuki. Artikel “Penerapan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Kerjasama